“Fan,liburan
semester ini kamu mau kemana?” Tanya Rudy kepadaku yang sedari tadi kami sedang
berada di kantin bersama Roy,Tika dan Putri. “Mungkin aku hanya di rumah
saja,membantu ibu berdagang atau mungkin mencari pekerjaan sampingan untuk
menambah uang kuliah semester depan”. Sahutku.
Ya,aku
hanyalah seorang anak kuliahan yang dapat dikatakan beruntung masuk ke
universitas ternama di Indonesia. Aku berasal dari keluarga yang sederhana, ibuku
seorang pedagang dan ayahku seorang supir pribadi orang asing yang bertempat
tinggal di sebuah apartemen dekat kampusku. Karena beasiswalah sampai sekarang aku
bisa berada disini memperoleh ilmu dan menyelesaikan skripsi agar angan-anganku
dapat terwujud disuatu saat nanti. Bersama dengan Rudy, Roy, Tika dan Putri,
kami membincangkan rencana liburan semester ini sambil melahap makanan yang saat
itu telah tersaji di atas meja.
Rudy
adalah kekasihku sekaligus sahabat terbaik untukku sejak kami bertemu dibangku
SD. Ayahnya adalah salah satu pengacara terkenal di New York dan ibunya sudah
meninggalkannya sejak berumur 8 tahun. Dari SD, ia selalu menjadi teman
sekaligus lawan untukku di kelas. Kami selalu bersaing untuk mendapatkan nilai
terbaik dan penghargaan di kelas. “Fan,kalo
nilai aku selalu lebih baik, kamu bakal
ngelakuin apa aja ya” lirik Rudy saat detik-detik sebelum pengambilan nilai
rapot semester. “Tapi kalo aku yang dapet nilai lebih baik dari kamu, kamu
harus janji juga mau ngelakuin apa aja ya untukku”. Sahut ku dengan sedikit
kekhawatiran karena takut akan nilai aku yang tidak lebih baik dari Rudy.
Hingga
saat ini,aku masih tidak percaya dengan kenyataan yang aku alami, entah Tuhan
memang telah mengaturnya atau hanya kebetulan semata. Aku selalu dipertemukan
dengan Rudy sejak duduk di bangku SD hingga umur kami yang telah menginjak
seperlima abad ini. Banyak orang bilang, aku beruntung memilikinya. Menjadi
kekasih seorang pria yang tampan dan didambakan oleh banyak wanita dengan kulit
putih dan bertubuh atlet. Seringkali orang-orang di kampus ingin berbicara dan
berteman dengannya.
Seusai
perbincangan itu, Rudy berbisik padaku “Fan, ada yang ingin aku bicarakan, ikut
aku yuk” dengan tatapan yang melekat dan keindahan yang terpancar dari
wajahnya, aku dan Rudy langsung mengakhiri perbincangan dengan Roy, Tika dan
Putri. “Rud,kita mau kemana?” tanyaku. “Udah
ikut aja,Fan. Aku gak akan nyulik kamu ko, lagipula siapa juga yang mau menculik
pacar aku yang jelek ini”. Canda Rudy kepadaku. Memang benar, aku hanyalah sesosok
wanita biasa yang mungkin tidak lebih baik dari teman-teman wanita Rudy yang cantik
dan pastinya lebih baik dariku.Tetapi aku tak pernah merasakan minder sama
sekali, karena aku mempunyai kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka,
ungkapku untuk menghibur perasaan yang sebenarnya menyakitkan. “Udahhh, aku hanya
bercanda ko” hibur Rudy kepadaku sembari mencubit pipiku.
Rudy
selalu mempunyai ide yang cemerlang untuk mencairkan suasana saat bersamaku.
Diajaknya aku ke sebuah tempat pameran buku tepatnya di daerah Jakarta selatan,
disana banyak berdatangan orang-orang kalangan atas dan penulis-penulis yang
cukup terkenal dimata orang-orang penikmat buku. Hanya orang yang memiliki
undangan saja yang bisa masuk ke tempat ini. “Disini kamu bisa melihat
buku-buku best seller dan terkenal sampai yang baru saja diterbitkan”. Rudy sangat
pandai dalam hal memilih tempat-tempat yang aku suka. Maklum, kami adalah
pecinta buku sejati dan selalu berlomba-lomba memiliki buku kesukaan kami untuk
dibaca. “Oh iya, katanya ada yang pengen kamu omongin” tanyaku kepada Rudy.
Sambil menatapku dengan penuh keseriusan,
seketika wajahnya yang mempesona berubah 180 derajat menjadi murung “sebelumnya
aku minta maaf sama kamu”. “Maaf untuk apa? Tanyaku keheranan. ”Aku akan pindah
kuliah ke New York, ini semester terakhirku untuk kuliah di Indonesia” bagaikan
petir menyambar batang pohon yang kokoh, kakiku langsung lemas seakan-akan topangan
tulangku tidak mampu menahan itu semua. Bagaimana bisa, seorang pria yang
sangat kucintai dan selalu ada untukku hingga detik ini akan pergi jauh dariku.
Aku menerawang jauh kesepian dan suasana yang sangat berbeda yang akan aku
alami ketika Rudy tidak lagi bersamaku di kampus bersama teman-teman lainnya.
Dilihatnya aku terpaku disampingnya, dengan segera ia memelukku erat-erat
dengan penuh kehangatan.
“Fan,
aku merasakan ketenangan dan kedamaian yang tercipta saat bersamamu.
Kehangatan, kasih sayang dan kebersamaan yang selalu akan kurindukan saat aku
berada di New York nanti” dengan isak tangisku Rudy menyampaikan kata-kata
penyejuk untukku. Air mata mengalir deras dipipiku. Kupeluk erat tubuh Rudy yang
memberikan kehangatan dan kenangan setiap detik kulalui bersamanya.
Seminggu
sebelum keberangkatannya ke New York, aku menghabiskan liburan bersama Rudy.
Mulai dari nonton bioskop XXI, jalan-jalan ke tempat rekreasi, dan pastinya ke
toko buku kesukaan kami berdua. Meskipun keceriaan terpancar dari wajah Rudy,
aku tak bisa membohongi hatiku yang sudah tersayat pisau yang tajam karena
sebentar lagi aku tidak bisa melihat senyum dan ketulusan dari hatinya.
Keesokan
harinya, aku bersama Roy, Tika dan Putri mendampingi Rudy menuju Bandara
Soekarno Hatta hingga detik keberangkatannya pun tiba. Terlintas dipikiranku untuk
melarang kepergiannya, tetapi apa hak aku? karena itu impiannya untuk
melanjutkan studi di Amerika tempat dimana universitas terbaik di dunia berada
disana. Seraya menguatkan hatiku yang sudah roboh diterpa angin yang berhembus
sangat kencang. “Wah,sepertinya gak bakal ngeliat lagi nih sepasang kekasih
akan berduel memperebutkan IP terbaik” lirik Roy kepadaku. Selama di bandara
aku hanya terdiam dan tidak mengeluarkan satu patah katapun.
“Fani,
jujur aku tak ingin berpisah denganmu, tetapi aku punya satu janji dengan almarhumah
ibuku, jika aku bisa menjadi penulis terkenal di tempat kelahiran beliau. Tapi,
aku janji! Aku akan balik ke Indonesia dan menetap disini setelah aku
mewujudkan impian ibuku itu dan segera menemuimu”. Tak terbendung lagi air
mataku,terisak peluh dan pedih yang kurasakan mendengar perkataanya nya yang
begitu menggores dihatiku yang akan kehilangan Rudy. Entah berapa lama yang
akan ku rasakan, untuk menyembuhkan luka ini. Dipeluknya erat-erat tubuhku, dengan
sentuhan hangat dan perasaan yang mendalam selama ini. Sambil berbisik dalam
pelukannya Rudy mengatakan “Fan, aku mencintaimu dan hanya kamulah yang ada
dalam impianku dimasa depan selain ibuku yang sudah berada di surga itu.. aku
tak pernah tahu kapan ajal menjemputku. Terima kasih Fani”.
Itulah
kata terakhir yang akan selalu kukenang dalam hidupku, yang tak pernah kuduga
Rudy mengalami kecelakaan pesawat dan tewas di tempat kejadian saat ia menuju
New York. *****



0 komentar:
Posting Komentar