Subscribe:

Ads 468x60px


counter

Selasa, 05 November 2013

Cinta Penulis Maut

“Fan,liburan semester ini kamu mau kemana?” Tanya Rudy kepadaku yang sedari tadi kami sedang berada di kantin bersama Roy,Tika dan Putri. “Mungkin aku hanya di rumah saja,membantu ibu berdagang atau mungkin mencari pekerjaan sampingan untuk menambah uang kuliah semester depan”.  Sahutku.
Ya,aku hanyalah seorang anak kuliahan yang dapat dikatakan beruntung masuk ke universitas ternama di Indonesia. Aku berasal dari keluarga yang sederhana, ibuku seorang pedagang dan ayahku seorang supir pribadi orang asing yang bertempat tinggal di sebuah apartemen dekat kampusku. Karena beasiswalah sampai sekarang aku bisa berada disini memperoleh ilmu dan menyelesaikan skripsi agar angan-anganku dapat terwujud disuatu saat nanti. Bersama dengan Rudy, Roy, Tika dan Putri, kami membincangkan rencana liburan semester ini sambil melahap makanan yang saat itu telah tersaji di atas meja.
Rudy adalah kekasihku sekaligus sahabat terbaik untukku sejak kami bertemu dibangku SD. Ayahnya adalah salah satu pengacara terkenal di New York dan ibunya sudah meninggalkannya sejak berumur 8 tahun. Dari SD, ia selalu menjadi teman sekaligus lawan untukku di kelas. Kami selalu bersaing untuk mendapatkan nilai terbaik dan penghargaan di kelas.  “Fan,kalo nilai aku selalu lebih baik,  kamu bakal ngelakuin apa aja ya” lirik Rudy saat detik-detik sebelum pengambilan nilai rapot semester. “Tapi kalo aku yang dapet nilai lebih baik dari kamu, kamu harus janji juga mau ngelakuin apa aja ya untukku”. Sahut ku dengan sedikit kekhawatiran karena takut akan nilai aku yang tidak lebih baik dari Rudy.
Hingga saat ini,aku masih tidak percaya dengan kenyataan yang aku alami, entah Tuhan memang telah mengaturnya atau hanya kebetulan semata. Aku selalu dipertemukan dengan Rudy sejak duduk di bangku SD hingga umur kami yang telah menginjak seperlima abad ini. Banyak orang bilang, aku beruntung memilikinya. Menjadi kekasih seorang pria yang tampan dan didambakan oleh banyak wanita dengan kulit putih dan bertubuh atlet. Seringkali orang-orang di kampus ingin berbicara dan berteman dengannya.
Seusai perbincangan itu, Rudy berbisik padaku “Fan, ada yang ingin aku bicarakan, ikut aku yuk” dengan tatapan yang melekat dan keindahan yang terpancar dari wajahnya, aku dan Rudy langsung mengakhiri perbincangan dengan Roy, Tika dan Putri. “Rud,kita mau kemana?” tanyaku.  “Udah ikut aja,Fan. Aku gak akan nyulik kamu ko, lagipula siapa juga yang mau menculik pacar aku yang jelek ini”. Canda Rudy kepadaku. Memang benar, aku hanyalah sesosok wanita biasa yang mungkin tidak lebih baik dari teman-teman wanita Rudy yang cantik dan pastinya lebih baik dariku.Tetapi aku tak pernah merasakan minder sama sekali, karena aku mempunyai kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka, ungkapku untuk menghibur perasaan yang sebenarnya menyakitkan. “Udahhh, aku hanya bercanda ko” hibur Rudy kepadaku sembari mencubit pipiku.
Rudy selalu mempunyai ide yang cemerlang untuk mencairkan suasana saat bersamaku. Diajaknya aku ke sebuah tempat pameran buku tepatnya di daerah Jakarta selatan, disana banyak berdatangan orang-orang kalangan atas dan penulis-penulis yang cukup terkenal dimata orang-orang penikmat buku. Hanya orang yang memiliki undangan saja yang bisa masuk ke tempat ini. “Disini kamu bisa melihat buku-buku best seller dan terkenal sampai yang baru saja diterbitkan”. Rudy sangat pandai dalam hal memilih tempat-tempat yang aku suka. Maklum, kami adalah pecinta buku sejati dan selalu berlomba-lomba memiliki buku kesukaan kami untuk dibaca. “Oh iya, katanya ada yang pengen kamu omongin” tanyaku kepada Rudy.
 Sambil menatapku dengan penuh keseriusan, seketika wajahnya yang mempesona berubah 180 derajat menjadi murung “sebelumnya aku minta maaf sama kamu”. “Maaf untuk apa? Tanyaku keheranan. ”Aku akan pindah kuliah ke New York, ini semester terakhirku untuk kuliah di Indonesia” bagaikan petir menyambar batang pohon yang kokoh, kakiku langsung lemas seakan-akan topangan tulangku tidak mampu menahan itu semua. Bagaimana bisa, seorang pria yang sangat kucintai dan selalu ada untukku hingga detik ini akan pergi jauh dariku. Aku menerawang jauh kesepian dan suasana yang sangat berbeda yang akan aku alami ketika Rudy tidak lagi bersamaku di kampus bersama teman-teman lainnya. Dilihatnya aku terpaku disampingnya, dengan segera ia memelukku erat-erat dengan penuh kehangatan.
“Fan, aku merasakan ketenangan dan kedamaian yang tercipta saat bersamamu. Kehangatan, kasih sayang dan kebersamaan yang selalu akan kurindukan saat aku berada di New York nanti” dengan isak tangisku Rudy menyampaikan kata-kata penyejuk untukku. Air mata mengalir deras dipipiku. Kupeluk erat tubuh Rudy yang memberikan kehangatan dan kenangan setiap detik kulalui bersamanya.
Seminggu sebelum keberangkatannya ke New York, aku menghabiskan liburan bersama Rudy. Mulai dari nonton bioskop XXI, jalan-jalan ke tempat rekreasi, dan pastinya ke toko buku kesukaan kami berdua. Meskipun keceriaan terpancar dari wajah Rudy, aku tak bisa membohongi hatiku yang sudah tersayat pisau yang tajam karena sebentar lagi aku tidak bisa melihat senyum dan ketulusan dari hatinya.
Keesokan harinya, aku bersama Roy, Tika dan Putri mendampingi Rudy menuju Bandara Soekarno Hatta hingga detik keberangkatannya pun tiba. Terlintas dipikiranku untuk melarang kepergiannya, tetapi apa hak aku? karena itu impiannya untuk melanjutkan studi di Amerika tempat dimana universitas terbaik di dunia berada disana. Seraya menguatkan hatiku yang sudah roboh diterpa angin yang berhembus sangat kencang. “Wah,sepertinya gak bakal ngeliat lagi nih sepasang kekasih akan berduel memperebutkan IP terbaik” lirik Roy kepadaku. Selama di bandara aku hanya terdiam dan tidak mengeluarkan satu patah katapun.
“Fani, jujur aku tak ingin berpisah denganmu, tetapi aku punya satu janji dengan almarhumah ibuku, jika aku bisa menjadi penulis terkenal di tempat kelahiran beliau. Tapi, aku janji! Aku akan balik ke Indonesia dan menetap disini setelah aku mewujudkan impian ibuku itu dan segera menemuimu”. Tak terbendung lagi air mataku,terisak peluh dan pedih yang kurasakan mendengar perkataanya nya yang begitu menggores dihatiku yang akan kehilangan Rudy. Entah berapa lama yang akan ku rasakan, untuk menyembuhkan luka ini. Dipeluknya erat-erat tubuhku, dengan sentuhan hangat dan perasaan yang mendalam selama ini. Sambil berbisik dalam pelukannya Rudy mengatakan “Fan, aku mencintaimu dan hanya kamulah yang ada dalam impianku dimasa depan selain ibuku yang sudah berada di surga itu.. aku tak pernah tahu kapan ajal menjemputku. Terima kasih Fani”.

Itulah kata terakhir yang akan selalu kukenang dalam hidupku, yang tak pernah kuduga Rudy mengalami kecelakaan pesawat dan tewas di tempat kejadian saat ia menuju New York. *****

0 komentar:

Posting Komentar